Showing posts with label short course. Show all posts
Showing posts with label short course. Show all posts

Sunday, August 05, 2012

CULTURAL DAY

Berlin, September 19 Sept, 2011
Hari ke-3 di Berlin | Hari ke-1 kursus

Meski baru memasuki hari pertama kursus, namun jadwal sudah padat. Malam hari digelar acara 'Cultural Event'. Selesai kursus jam 5 sore, kami tidak pulang ke hotel. Bersama-sama kita menuju ke kawasan K'damm untuk menikmati masakan Turkey. Ya, biasanya acara makan bersama short course internasional seperti ini, memilih restaurant yang 'halal' dan masakannya cocok untuk semua peserta. DI German ya pilihannya restoran khas Turkey. 

Siapa yang traktir makan? Tentu saja masing-masing peserta. Jadi begini... Masing-masing kan mendapat uang saku sehari 24 Euro. Namun, ada kegiatan wajib yang harus diikuti dan biayanya dipotong dari uang saku, seperti acara makan malam bersama ini. Uang sih sudah dipotong dari awal pada saat diserahkan. Maka uang saku yang kita terima tidak utuh 24 Euro, tapi sebesar 23 Euro sekian. Ah, masih sangat cukup buat biaya hidup. Transport sudah ditanggung, sarapan di Hotel, praktis hanya makan siang dan malam saja pengeluaran peserta. Jika mau hemat, ya masak nasi untuk makan malam. Okay, tentang menyiasati hidup di luar negeri, akan dibeberkan kemudian. Ini salah satu foto kita saat acara makan malam bersama. 


Saya (batik hijau), Grace (peserta dari Kadin German Indonesia), Antonella (ungu tua) dan Sabrina (paling depan) saat makan malam bersama.



Friday, August 03, 2012

PERKENALAN DAN ATURAN MAIN

Berlin, 19 September 2011

Tulisan ini masih ada kaitannya dengan rangkaian pengalaman mengikuti short course 'Online Media Management' di Berlin. Karena kesibukan, saya tidak sempat menulis di blog tentang day-to-day kegiatan di sana. Mumpung di bulan puasa ini kegiatan tidak terlalu padat, semoga saya bisa menyelesaikan tulisan hingga lengkap.

Mendapat kesempatan mengikuti short course memang menyenangkan. Apalagi seluruh biaya peserta, seperti: visa, tiket pesawat, penginapan, dan transportasi lokal ditanggung pihak penyelenggara. Bahkan masing-masing peserta mendapat uang saku, besarnya tentu sudah disesuaikan dengan biaya hidup disana. Nah, mengenai biaya apa saja yang saya keluarkan mulai dari persiapan, biaya hidup dan beli souvenir, akan dibahas tersendiri. 

Hari pertama kursus dimulai, tentu saja acaranya perkenalan pengajar, staff IIJ dan peserta. Membahas outline kursus dan pembagian kelompok. Beda negara, beda tata cara penyelenggaraan kursus. Di IIJ ini, 2 orang pengajar kami mengajak masing-masing anggota kelompok untuk memikirkan 'Aturan Main' selama mengikuti kursus. Aturan main yang dibuat sendiri oleh peserta, tentu saja diharapkan sepenuhnya akan 'dipatuhi'. 

Inilah 10 Aturan Main selama mengikuti kursus, hasil pengumpulan ide masing-masing kelompok :
  1. No side talks
  2. Cellular phone should be silent
  3. Strict to the topic
  4. No sleep
  5. Do not interrupt
  6. Team work
  7. Respect other ideas and opinions
  8. Participation
  9. On time
  10. No facebook (privacy)
Hm, mengamati satu persatu Aturan Main diatas, yang paling menimbulkan pertanyaan adalah aturan main ke-10. Mengapa 'no facebook' ? Nah, ceritanya begini. Pada kursus sebelumnya, ada peserta yang mempermalukan Pengajar dengan cara memuat foto Pengajar dalam pose 'kurang menyenangkan' di mata si Pengajar pada akun facebook peserta, lalu dia 'tag' si Pengajar. Alhasil teman-teman si Pengajar tahu dong... Intinya, pose di foto itu menjatuhkan kredibilitas sebagai Pengajar. Mereka menganggap, segala gaya, ekspresi atau mimik muka saat menyampaikan materi di kelas adalah privacy. Mereka keberatan untuk diabadikan dan dipublikasikan.

Sepakat! Ya, sebagai Pengajar short course kelas Internasional memang harus menjaga kredibilitas tersebut. Saya sih manggut-manggut dalam hati tanda setuju dengan pendapat mereka. Para pengajar bukan tak mau peserta mempublikasikan kegiatan masing-masing di wall facebook, namun disarankan untuk memasang foto terbaik. Jika diresapi, sesungguhnya kebijakan ini juga menguntungkan peserta sendiri. Secara tak langsung, peserta pun harus menjaga attitude alias jaim (jaga image) selama mengikuti kursus. Jangan sampai memuat 'kabar' tak sedap apalagi foto tak sedap dipandang. Pintar-pintarnya kita menyesuaikan konteks saat itulah. Jika memang lagi kegiatan outdoor atau wisata, ya tak masalah memasang pose terlucu atau terjelek sekalipun. 

Terkait dengan aturan main diatas, aturan ke-9 rupanya 'pernah' dilanggar beberapa peserta, termasuk saya dan satu lagi teman dari Indonesia. Tapi kami terlambatnya nggak parah, cuma sekitar 10 menit. Itupun bukan kesalahan kami. Kami biasa berangkat jam 08:15 atau kadang 08:30 waktu Berlin. Namun di hari yang lagi apes itu, bus yang kami tumpangi kena macet karena lalu lintas sedang padat, apalagi tiba-tiba ada mobil ambulance lewat dengan sirine meraung-raung. Otomatis kendaraan-kendaraan lain berhenti di jalan memberi kesempatan ambulance melintas. Meski berhenti tak lama, tetap saja mempengaruhi waktu kedatangan kami ke tempat kursus. Dan ketika kami jelaskan apa yang terjadi di jalan, jawabannya adalah NO MATTER WHAT! NO EXCUSE!  

Kami sempat shock mendengar penjelasan itu. Oh okay, ini di Jerman yang orang-orangnya konon sangat disiplin banget. Kelewat disiplin sehingga tidak bisa menerima alasan-alasan seperti itu. Ya tetap saja, kami yang disalahkan karena tidak berangkat lebih  pagi untuk mengantisipasi hal-hal tersebut. Wow! Baiklah, sejak saat itu kami berjanji tidak akan datang terlambat. Padahal baru sekali kejadian kami terlambat. Sebenarnya ada pemicu lain sih, yaitu kelakukan salah satu teman kami. 

Nah, teman kami yang satu itu, selalu terlambat dari hari pertama kursus dimulai. Hari berikutnya, meski sudah ditegur masih juga terlambat. Puncaknya ya pada saat saya dan teman Indonesia terlambat karena pada hari itu banyak yang terlambat. Kami biasa berangkat bersama-sama satu bus. Kadang 2 kloter, kadang seluruhnya bisa bersama dalam 1 bus.

Teman saya yang sering terlambat itupun sial. Ia mendapat teguran keras dan ancaman mendapat sangsi berat jika masih terlambat. Ia akan didiskualifikasi alias dipulangkan ke negaranya. Wah, rugi besar dan malu luar biasa jika sampai kejadian. Demi mendengar sangsi yang sangat berat, teman kami tersebut mulai keesokkan harinya dan seterusnya berangkat paling pagi. Dari hotel tempat menginap, jam 8 pagi waktu setempat, ia sudah meluncur menuju ke kantor GIZ. Waktu tempuh dari hotel ke GIZ dengan bus sekitar 20 menit. Sedangkan kursus dimulai pada jam 9 teng! (nnk)






Saturday, September 17, 2011

TAKE OFF TO BERLIN (Part 2)

Amsterdam, 17 September 2011

  • Pk. 10:37 wib atau 5:37 Amsterdam- pesawat KLM yang kutumpangi pun 'touch down' alias landing di Schiphol Airport, Negeri Kincir Angin. Jadwal penerbangan berikutnya 08:10 WIB, so cukup ada waktu buat jalan-jalan di area bandara. Oh ya, kami ganti nomor penerbangan artinya ganti jenis pesawat untuk jarak tempuh pendek. Sambil nunggu beli hot chocolate ukuran small seharga 2.90 Euro. Saat beli euro 15 September 2011 (sehari sebelum keberangkatan) kurs 1 Euro = Rp. 12.080, jadi bisa dihitung berapa rupiah segelas hot chocolate. 

  • Pk. 07:30 waktu Amsterdam atau 13:30 WIB - Saya terpaksa berlari-lari menuju ke boarding lounge karena ternyata jauh banget tempatnya dan baru menyadari bahwa waktunya sempit, apalagi harus melewati pintu imigrasi dan tentu saja ada antrian. Beruntung antrian imigrasi tidak panjang, sehingga nunggu nggak sampai 5 menit, giliran saya mendatangi loket petugas imigrasi Schiphol deh. Seperti biasa petugasnya menanyakan apa tujuan kamu datang ke Berlin, berapa lama tinggal disana. Petugasnya beruntung nggak reseh banget. Dengan melewati gate imigrasi di Schiphol, sekaligus sudah memasuki kawasan negara dengan visa schengen, artinya ketika nanti di Berlin, saya tidak perlu lagi melewati imigrasi, tidak ada lagi pengecekan visa. Selepas dari pengecekan data ini yang paling reseh deh. Hand carry alias tas jinjing harus melewati scanner dan tas setiap orang digeledah. Cukup makan waktu juga karena salah satu tas jinjingku isinya camera SLR, handycam, camera pocket, external hardisk, nutrisi herbalife rasa coklat. Sebenarnya mereka itu nyari barang bawaan yang 'liquid' (cairan) sifatnya. Dengan penuh percaya diri saya jelaskan bahwa tidak ada sama sekali barang liquid. Saya kebetulan membawa 2 botol kosong air mineral, ini sengaja saya bawa untuk kondisi darurat kali-kali aja harus BAB. Disana kan WC nya kering, nggak pake kran untuk cebok. Tapi akhirnya saya putuskan untuk membuangnya juga, meski petugasnya tidak melarang. Dengan pertimbangan, botolnya tipis, udah mulai reyot dan saya tinggal menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Perut masih dalam kondisi normal, belum ingin BAB. Toh kalaupun kepengen, masih bisalah ditahan-tahan dikit.. hehe.. Ok, selesai melewati pemeriksaan imigrasi, langsung berlari menuju gate D-77 yang lumayan jauh itu...
  • Pk. 08:20 Amsterdam - pesawat KLM take off menuju ke Schonefeld Airport, Berlin, German. Announcement Pramugarinya sih penerbangan sekitar 1 jam dan tanpa perbedaan waktu antara Amsterdan dengan Berlin. Selama on board kerjaan saya ngamatin pramugara dan pramugarinya. Ada yang muda, ada juga yang udah tua dan sedikit gendut, masih dipakai juga. Artinya airlines ini menghargai profesionalisme dan pengalaman seseorang. Pesawat tertua di Eropa ini, terbang pertama kali 12 September 1919. Penerbangan pertama ke Batavia, dilakukan tanggal 1 Oktober 1924 dan yang jelas saat itu yang terbang kesini statusnya masih penjajah ya.. 
  • Pk. 09:10 Berlin time - pesawat mendarat dengan selamat. Kesan pertama ketika memasuki bangunan bandara kok buruk ya. Kumuh, kotor. Ibaratnya kalau baju kok kucel ya. Dibandingkan dengan Soekarno-Hatta masih lebih bagus loh. Saat pengambilan tas bagasi pun tidak terlalu ribet. Untuk trolley, kita harus memasukkan 1 koin euro. Begitu sampai diluar, saya sudah ditunggu oleh staff IIJ-GIZ dengan membawa paper bertuliskan IIJ-GIZ. Kami pun saling berkenalan, termasuk dengan peserta dari Cambodia yang sudah sampai lebih dulu. Kami menuju ke hotel dengan menggunakan taksi. Eh, supir taksinya cerita kalo kita termasuk beruntung karena datang pas cuaca cerah, ada matahari. Dia bilang Jum'at dan Sabtu ini ramalan cuaca menunjukkan cerah, ada matahari. 
  • Hanya sekitar 15 menit dari Bandara ke Hotel Citadines di Olivaer Platz, kawasan Kurfurstendamm, semacam jalan protokol. Nah, kawasan ini termasuk elit. Wow! Sore nanti jam 15:30 waktu Berlin, seluruh peserta dimohon berkumpul untuk briefing dan jalan-jalan mengenal lingkungan sekitar hotel. Hasilnya saya share nanti ya...Saya mau ke kamar dulu untuk berbenah dan mengenali seluk beluk fasilitas di kamar. (bersambung..)



TAKE OFF TO BERLIN (Part 1)

Jakarta, 16 September 2011

  • Pk. 10:00 WIB - Visa Schengen dan Paspor diambil langsung di Kedutaan German, Jl. Thamrin No. 1. Jakarta. Sebenarnya Visa sudah didapat sehari sebelumnya (Kamis, 15 September 2011). Namun karena ada bantuan dari staff lokal, maka Paspor bisa diambil oleh staff lokal tersebut. Persis waktu yang dibutuhkan dari apply Visa sampai jadi adalah 10 hari. Saya tidak perlu bayar sepeserpun untuk Visa karena diberikan gratis dari Kedutaan, ini bagian dari pelayanan sebagai peserta terpilih untuk mengikuti 'Online Media Management' diselenggarakan oleh IIJ/GIZ di Berlin, Jerman. 
  • Pk. 17:05 WIB - Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sudah ada 2 teman yang menunggu untuk mengantar pergi. Antrian kelas ekonomi di counter KLM (The Royal Dutch Airlines) cukup panjang. Sayang, beberapa hari sebelumnya saya nggak ada waktu untuk browsing nih airlines. Ternyata calon penumpang bisa melakukan 'online ceck-in' dan ketika tiba di bandara, tidak perlu melakukan antrian lagi. Tapi akhirnya antrian panjang calon penumpang kelas ekonomi, bisa melakukan ceck-in juga di counter khusus 'online ceck-in'. Barangkali karena sudah sepi. Oh ya, calon penumpang nggak bisa milih nomor tempat duduk. Jika mau duduk di aisle atau row atau dekat jendela, bisa pesan tapi bayar sebesar 41 Euro. Wow! Sayang bener ya. Beruntung saya dapat tempat duduk row nomor 34-D.
  • Pk. 19:12 WIB - Pesawat KLM jenis Boeing 777-300 dengan nomor penerbangan KL 810 take off. Wah, rupanya 'itinerary' yang dikirim oleh panitia via email, tidak sesuai. dalam itinerary tersebut, tidak tercantum bahwa pesawat akan transit di Kuala Lumpur. Saya sendiri baru tau saat melakukan ceck-in. Penerbangan dari Jakarta - Kuala Lumpur, menurut informasi yang disampaikan oleh Captain Pilot selama 1:25 menit. 
  • Pk. 20:38 WIB - Pesawat yang saya tumpangi 'touch down' daratan Malaysia. Saya benar-benar cek jam tangan dan mencatat dalam notes. Selisih waktu Jakarta - Malaysia adalah 1 jam lebih cepat, artinya pesawat mendarat jam 21:38 waktu Kuala Lumpur. Saat dipesawat dikasih tau tuh seluruh penumpang turun dari pesawat untuk transit selama 30 menit. Sebenarnya agak berat untuk turun transit, mengingat 'hand-carry' saya ada 2 tas, dimana 1 tas terisi penuh barang-barang elektronik (laptop, camera SLR, dan handycam, serta snack). Lumayan berat sih. Tapi mau gimana lagi ya.. harus diikuti. 
  • Pk. 22:30 WIB atau 23:30 waktu Kuala Lumpur, dengan pesawat yang sama, kita take off lagi menuju Amsterdam. Menurut penjelasan captain Pilot, perjalanan akan ditempuh selama 12 jam. Ok, dalam hati saya perjalanan selama itu tentu akan kumanfaatkan untuk TIDUR! Ya, tidur. Karena beberapa hari sebelumnya, benar-benar     sibuk banget selalu pulang larut. Sampai ketemu ya dengan kisah saya transit di Amsterdam!